Monday March 5th, 2012 00:04 Cinta Monyet

Malam ini linimasa akun Twitter saya ramai membicarakan Aurel Hermansyah. Awalnya saya  nggak ngeh karena lagi asyik ngakak nonton ‘Horrible Bosses’. Agak lama, saat saya tengok.. WIH, heboh yaa. Kicauan heboh itu pun mengungkap pengakuan Aurel bahwa ia pernah berpacaran 13 kali selama 8 bulan. Lho? Apa yang bikin heboh ya?

Gini, saya bukan orang yang punyya pacar melebihi jumlah Aurel. Saya juga bukan artis. Saya cuma tidak kaget. Adik asuh saya dulu pernah memiliki pacar sebanyak 5 orang sekaligus hampir tiap bulan. Umurnya baru 16 tahun, tapi fasih banget bicara soal jatuh cinta, pacaran dan patah hati. Kok bisa punya pacar sebanyak gitu? “Yah, kalo bosen kan tinggal diputus satu satu. Trus cari lagi, hahaha”.  Siapa aja tuh lima orang? Selingkuh gitu dong? “Ada lah, temennya temen. Atau ketemu karena kenalan. Yang kedua ama ketiga tau kok aku udah pacar. Gakpapa, namanya juga pacaran bukan nikah beneran.”
Nah lo!

Ini cerita tahun 2008 lho yaa. Tahun 2012, mungkin lebih dahsyat lagi macam neng Aurel gituh.

Perkembangan informasi jaman sekarang memudahkan remaja masa kini mencari kenalan baru. Ulah iseng macam SMS nyasar atau kenalan di FB memperluas jaringan pergaulan remaja. Si adik asuh ini saja, bisa kenal dengan pacar-pacarnya dari ulah iseng SMS nyasar. Milih sembarang nomer lalu mengirimkan SMS perkenalan. Kalau udah berbalas 3-4 kali, langsung jadian deh. Prinsip pacarannya pun sederhana, kalau udah ga asik atau bosen..ya putus aja.

Apa gitu saja? Weits, engga! Drama percintaannya tentu tetap ada. Kan mereka gemar nonton drama Korea (ups, sinetron siy kesukaan si Mamah..). Adik asuh saya itu pernah menangis terisak-isak  gara-gara pacaran. Pernah juga melabrak selingkuhan pacarnya. Sering diteror pacar keduanya pacar. Berantem sama guru karena guru menghina pacar (its fact!). Yes, dunia remaja emang penuh drama. Walau pacar segudang, tapi drama tak pernah kurang.

Buat abege dan remaja jaman sekarang, ga susah deh dapet pacar. Kalau jalan sebentar ama cowok, pasti langsung disuit-suitin pacaran. Mau PDKT juga ga perlu saran super Mario Teguh. Udah ada kamus wajib seperti teenlit dan manga. Jaman dulu sarana PDKT juga cuma via telpon ato hape. Paling parlente, pasang pesan di radio kesayangan. Sekarang? Bejibun! Media sosial, telpon genggam, messenger, BBM, blog, SMS, blutut, infrared, ehh.. Keblabasan.. Ah, ya.. Dan satu lagi. Abege dan remaja sekarang makin giat nongkrong. Peluang ber-pacar makin besar seiring makin canggih teknologi yang  dikuasainya.

Sejak saya ngobrol bareng adik asuh saya, pikiran saya semakin terbuka (ciyeeh!). Akan terjadi banyak pergeseran nilai dan kelaziman, seiring derasnya informasi yang diterima remaja masa kini. Sama sperti orang tua kita melihat kita di jaman sekarang.

So, please open you mind! Get ready to accept the fact that your 13th yrs old cousins had a dozen ex-boyfriend in a week. Or the real act that your 11th yrs old nephew wins Angry Birds Seasons and Rio within  3 days. Heuheu.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook

, , , , , In: UncategorizedNo Comments

Tuesday February 21st, 2012 02:03 Mimpi dan LBD

Setelah sekian lama terpendam dalam kumpulan film saya, malam ini saya sempatkan menonton ‘Little Black Dress’. Sebuah film Korea yang dibintangi Yoon Eun Hye, si bintang ‘Princess Hours’ yang banyak digilai penonton Indonesia. Film ini bercerita tentang persahabatan 4 orang gadis umur 24 tahun yang sama-sama ingin hidup mewah dan tenar. Ingin tetap terlihat keren dan senang-senang seperti tokoh2 dalam TV. Well, TV sono (korea) kali ya? Kalo di sini kan pemeran utama sinetron selalu tersiksa dan disiksa ;p

Alur cerita ini mengingatkan saya pada jaman SMA dulu. Saya dan sahabat2 saya yang bermimpi ingin seperti tokoh-tokoh utama film Ada Apa dengan Cinta. Ingin hidup senang, tertawa selalu dan tidak perlu memikirkan kesusahan hidup. Setidaknya, itu pikiran saya dulu. Bahkan, mungkin sampai sekarang. Siapa sih yang tidak ingin hidup santai dan senang terus?

Seiring bergulirnya cerita, si bintang utama, Yoo Min yang diperankan oleh Eun Hye berada dalam kegamangan. Tidak punya impian dan tujuan hidup. Ia ingin tetap terlihat keren seperti jaman sekolah dan kuliah dulu. Menjadi salah satu cewek populer, tidak pernah kekurangan finansial dan sering bersenang-senang. Demi tetap terlihat keren, ia bekerja paruh waktu menjadi asisten penulis skenario dan berpacaran dengan pria kaya yang dikenalnya melalui kencan buta. Salah seorang sahabatnya tiba-tiba menjadi artis terkenal. Ia dan kedua teman lainnya pun merasa iri hati. Lantas? Ah, tonton sendiri lah ya.. Hehe..

Film ini secara alamiah menerjemahkan apa yang dirasakan perempuan-perempuan masa kini pada umur 20 tahunan awal. Bukan hanya di Korea, menurut saya. Tapi di sini juga. Setidaknya di hidup saya dan teman-teman saya. Betapa indahnya masa-masa sekolah dan kuliah itu berbeda jauh dengan dunia kerja dan dunia nyata (yang fana… Auuuu).

Selepas kuliah, banyak teman saya yang gamang. Terutama, perempuan ya. Ingin bekerja, tapi bekerja apa? Ingin menikah, benarkah itu pilihan yang tepat? Ingin kaya mendadak, bagaimana cara? Tapi satu yang pasti, kami (saya dan teman-teman perempuan saya) inginnya selalu bisa makan enak di sushi tei. Ingin selalu bisa beli sepatu bermerek yang nyaman. Ingin selalu bisa beli baju yang lagi tren. Ingin selalu bisa jalan-jalan sambil belanja. Persis seperti yang diinginkan Yoo Min dan teman-teman :)

Kegamangan itu memang wajar terjadi. Selepas kuliah, sebagian besar dari kita seperti dibangunkan dari mimpi. Terbangun untuk menjalani hidup yang sebenarnya. Hidup menjadi diri sendiri itu seperti apa? Hidup tanpa topangan dana orang tua. Hidup tanpa arahan kurikulum dan petunjuk guru. Hidup yang tidak dinilai dari hanya hasil belajar semalaman. Seperti seekor anak burung yang pertama kali dilepas untuk terbang. Awalnya terasa menyenangkan, tapi lantas kebingungan.

Sebagian dari kita yang punya mimpi besar, terus melaju mengejar mimpinya. Tak peduli bagaimana ia jatuh bangun, ia tetap bersikeras dan pantang menyerah. Sebagian lagi yang gagal, bertahan hidup dengan menciptakan mimpi baru. Tanpa memperlihatkan kegamangan dalam hatinya, terus menjalani hidup sambil mencari mimpi baru. Entah itu menikah atau alih profesi. Lalu, bagaimana dengan yang tak punya mimpi atau cita-cita?

Seperti Yoo Min, yang tidak memiliki cita-cita. Mereka mengikuti arus dan hidup seperti orang lain.

Saat saya tilik lebih jauh (saya jelajah melalui google, maksudnya), film ini dibuat berdasarkan novel Korea ‘My Black Mini Dress’. Beberapa ungkapan Yoo Min dalam novel tersebut secara mengejutkan mirip dengan apa yang saya rasakan..

“I can always have dreams. I can always challenge something. But I always end up looking for the obstacles and the negatives that will decrease my desire to do anything. And in the end, the results would always be the same, “Impossible to challenge”.My dreams were limited to glamorous image, and I was too afraid to make them real.And this is the excuse to why I have been wasting my days to this age, without having detailed plans for my future.”[Pg. 244, My Black Mini Dress, Book 1]

Walaupun agak sedikit lebay di bagian ‘glamorous image’, saya seringkali mengeluhkan hal-hal negatif yang menahan saya untuk ‘move on’. Mimpi saya juga sebatas ingin menjadi ‘businesswoman’ jaman esde dulu. Plus, ‘masuk itebe’ jaman lulus sma. Setelahnya, saya tersesat. Nil.

Sama seperti Yoo Min, sejak kecil saya selalu yakin bahwa saya akan jadi perempuan yang ‘sophisticated’ di umur 30an. Punya bodi aduhai, berkecukupan finansial dan (tetap) beken. “Those incredible things will come, eventually.” Itu yang selalu saya pikir. Persis seperti apa yang dirasakan Yoo Min..

“I thought becoming a 30 year old is like reaching nirvana. I would know about the society, know about men, know about the world, and that’s why I let things just pass by without questioning its validity, and thought that I’d be able to accomplish things that I didn’t like.”[Pg. 128, My Black Mini Dress, Book 2]

Ow..ooh. Tulisan-tulisan dalam novel itu seperti menampar saya. Merasa gamang itu wajar. Tapi kegamangan tanpa batas waktu, itu tidak lagi wajar. Mimpi bisa dicari, asal ada niat untuk mencarinya. Semua orang juga tidak pernah merasa pasti pada mimpinya, semua mencari-cari. Kepastian itu hanya milikNya.

Film itu juga seperti menyentil saya dengan genitnya. “Plis deh, Yoo Min (Eun Hye) cantik banget kale dan lebih muda dari situ..jadi bisa lebih beruntung dong.” *brb cari dokter bedah plastik*

Thanks for MariYEH from Forum Soompi

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook

, , , , , , , In: si riwil(1) Comment

Monday June 13th, 2011 00:07 Bantuan untuk #Rumah Mentari

foto sebelum dicat

Hari ini saya ke Rumah Mentari, rumah belajar yang saya bangun bersama beberapa teman relawan di daerah Ciburial, Bandung. Saya terhenyak. Cat temboknya tak lagi biru muda yang cerah, tapi abu-abu muda. Cat bingkai jendela dan pintunya tak lagi biru segar tapi hijau gelap dan oranye tua. Warnanya mirip dengan salah satu warna andalan sebuah bank nasional. Ada apa ini?

Kedatangan saya hari ini telah disambut oleh sang pemilik rumah, Bu Dewi. Terduduk di sebelahnya salah satu relawan muda, Kak Fera serta adik-adik asuh kami, Siti dan Maman. Ruang tamu Bu Dewi yang biasa kami sulap sebagai tempat belajar puluhan anak-anak SD dan SMP kini beralaskan karpet. Karpet hasil pemberian donatur bank yang juga mencat tembok rumah Bu Dewi. Dalam ruang tamu itu berdiri pula dua lemari kayu besar nan jangkung yang terlihat baru. Lemari kayu tersebut telah diisi buku-buku perpustakaan kami. Semua buku dipindahkan lemari perpustakaan mini kami.  Ruang tamu Bu Dewi terasa sesak, kursi-kursi tamu pun harus digeser ke belakang lemari kayu. Saya semakin bingung.

Bu Dewi lalu menjelaskan bahwa rumah belajar kami mendapat bantuan dari badan amal masjid kampus saya.  Pengucur dana bantuannya, ya bank nasional yang mencat tembok Bu Dewi. Awal bulan lalu, para pimpinan bank tersebut tiba-tiba saja datang berkunjung ke rumah belajar kami diantar pengurus badan amal. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, Bu Dewi kalang kabut menyambut tamu kehormatan. “Tau-tau datang dan bilang mentari butuh cat baru. Mereka juga bilang akan sumbang lemari buku dan 3 buah komputer”, jelas Bu Dewi. Tanpa ada perjanjian yang jelas dan mengira hanya bantuan biasa seperti lembaga-lembaga sebelumnya, Bu Dewi pun menyetujui bantuan tersebut.

Beberapa hari kemudian, cat datang dan Bu Dewi diminta untuk menyewa tukang bangunan. Selain cat, tembok dan atap Bu Dewi juga diperbaiki sesuai dengan permintaan tamu-tamu kehormatan. Semen dan triplek yang kurang terpaksa dicarikan sendiri oleh Bu Dewi. Lalu muncul permintaan dari pengurus badan amal untuk menambah kanopi  di bagian teras rumah. Bu Dewi sempat bingung karena seingatnya tamu-tamu kehormatan tidak minta. Merasa bukan masalah besar, Bu Dewi pun menurutinya dan beban kerja tukang pun bertambah.

Selanjutnya, material lemari datang bersama karpet saat Bu Dewi tidak ada di rumah. Sekenanya saja kursi-kursi ruang tamu dipindahkan ke belakang. Plang bertuliskan “Kampung Bangkit” pun dipasang di depan rumah dan di ujung gang masuk rumah Bu Dewi. Komputer pun dipasang, tapi hanya satu unit yang datang. Dua lagi entah ada di mana. Kejanggalan lain mulai muncul. Upah tukang bangunan belum juga terbayar sampai hari terakhir pengerjaan. Pengurus badan amal dari masjid kampus saya itu mendadak tidak bisa dihubungi.

Belum beres urusan keuangan, tiba-tiba pengurus badan amal menelepon dan mengatakan bahwa tamu kehormatan dari Bank telah sampai. Bu Dewi, suami dan beberapa siswa pun melakukan persiapan secara mendadak. Plang bertuliskan Rumah Mentari buru-buru dipasang di depan rumah. Rumah cepat-cepat dibereskan. Tamu kehormatan datang membawa bingkisan buku dan meninjau hasil pengecatan. Mungkin mereka berbangga dalam hati, karena rumah belajar kami sekarang sudah mirip kantor cabang mereka.

Anehnya, para direktur bank itu mempertanyakan lemari kayu yang terpasang tidak sesuai dengan harapan mereka. “Kok lemarinya tidak ada kacanya ya? Komputer juga kok cuma satu? Padahal, uang 60 juta sudah kami berikan pada pengurus badan amal untuk mengurus semuanya,” ucap salah satu direktur. Bu Dewi dan suami pun mencium adanya ketidakberesan di sini.

Upah tukang dan material tambahan kanopi belum terbayar sampai sekitar 2,48 juta rupiah. Saat Bu Dewi menagih pada pengurus badan amal, mereka berkelit bahwa uang belum turun dari pihak bank. Bu Dewi pun menagih pada pihak bank, tapi lagi-lagi dibantah bahwa pihak bank sudah memberikan semua uangnya pada badan amal. Mengesalkan sekali.

Bu Dewi akhirnya mengontak direktur badan amal dari masjid kampus saya itu. Bu Dewi pun curhat dan menuturkan kebingungannya. Berkat curhatnya, direktur badan amal lalu menugaskan bawahannya untuk membayar utang tersebut. Melalui proses yang alot, bendahara dan bagian administrasi badan amal akhirnya bersedia membayar 1,36 juta saja. Sisanya ?  Bu Dewi dan Pak Lala harus menanggung  922.000 untuk dibayarkan pada tukang dan toko material.

Saya geram sekali mendengar cerita Bu Dewi. Geram pertama, karena saya tidak bisa bantu mengganti uang Bu Dewi dan Pak Lala. Geram kedua, tidak habis pikir pada buruknya manajemen keuangan badan amal. Geram ketiga, geregetan dengan fakta bahwa kedua badan yang membantu itu dua-duanya mengaku berasaskan agama. Yang satu yayasan masjid, dan satu lagi berembel-embel Syariah.

Kalau memang berniat membantu, mengapa malah menyusahkan orang yang dibantu??

UPDATE (13 Juni 2011, 16.09 wib) : Alhamdulillah, saya baru mendapat kabar dari badan amal dan bank di atas. Segala urusan keuangan di atas telah beres. Terima kasih kepada badan amal dan bank yang telah memberikan bantuan lemari dan buku untuk Rumah Mentari. Terima kasih pula pada Kak Primus, Kak Monja yang telah membantu konfirmasi dan klarifikasi atas permasalahan di atas.

 

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook

, , , , , , In: si reporter, si riwil(10) Comments

Thursday April 14th, 2011 00:16 20 Tips Cantik untuk Pendamping Wisudawan

9 April 2011 kemarin, saya sempat ke gerbang belakang ITB. Ramai betul suasana siang hari itu, mungkin karena bertepatan dengan gelaran Wisuda bulan April. Saya datang hari itu untuk berjumpa dengan seorang teman, tapi dia sedang asik ber-tugas akhir ria di laboratorium.  Saya pun menunggu sambil berkicau riang di twitter. Banyak wisudawan dan pendamping wisuda yang bersliweran di depan saya waktu itu. Saya pun tertarik memperhatikan gaya dandanan para pendamping wisudawan yang lewat.

Ada yang memakai terusan longgar tanpa lengan model baju pantai melambai-lambai. Ada yang berkerudung merah menyala dari ujung jilbab sampai kaki. Euwh! ..dan masih banyak lagi. Terinspirasi dari pengamatan saya, hari itu saya pun membuat kultwit singkat tentang bagaimana gaya yang paling oke untuk para pendamping wisuda ^^ (ketik twit sambil memberikan tatapan aneh pada gadis-gadis saltum hari itu ;p).  Berikut beberapa tips yang sudah saya rapikan dari hari itu :

 

1. S. O. P. A. N.

Kunci utama  baju  PW -pendamping wisuda- adalah : Sopan. Sopan jadi syarat utama acara wisuda. Dress code formal dalam acara wisuda menjadi alasan pertama betapa pentingnya penampilan sopan. Selain itu, kamu juga harus memperhitungkan kehadiran orang tua wisudawan yang kau dampingi. Salah satu cara ampuh untuk menghormati sang orang tua wisudawan, ya dengan penampilan sopanmu.

2.  Pahami Selera Sang Ibu

Kalo kamu PW yang menjabat juga sebagai kekasih hati wisudawan,  rebutlah hati sang calon mertua (camer) dengan gaya. Hehe. Kamu harus pahami selera sang ibu,  terutama. Jika sang camer seorang ibu rumah tangga  biasa, sebaiknya rok jangan kependekan dan hindari baju tanpa lengan.  Kalau sang camer seorang yang fashionable (bisa tau kan dari cerita sang pacar?), pilih satu item kebanggaanmu yang paling up to date lalu mix match dengan outfit musim lalu/yang basic. Kuncinya, tetap harus SOPAN.

3. Kebaya Modern atau Dress Etnik

Pilihan terbaik untuk acara wisuda ialah baju kebaya atau dress bermotif etnik. Pilih baju kebaya modern yang berpotongan sederhana dan tetap sopan. Bagi yang ingin tampil beda, mainkan sedikit model kebayamu, model kerah cina, rok A-line motif songket, dsb. Lebih baik tidak memakai rok batik/songket panjang, karena nanti kamu disangka wisudawati juga. Hehe.

Dres bermotif atau bergaya etnik paling pas dipakai sebagai gaya andalan PW. Pilih dress yang chic, bermodel unik dan tidak berkesan ‘baju batik kerja’. Kalau hanya punya dress batik standar, tambahkan aksen ikat pinggang dari pita jumbo, kalung etnik berwarna kontras atau ditambah vest/bolero pesta. Jadilah beda dengan memakai dress motif tenun atau songket khas daerah asalmu!

Jika kamu tidak punya keduanya (dan tidak bisa meminjam salah satunya), cobalah atasan etnik dengan clana krem/putih.

 

4. Not Too Bright

Jangan pakai baju dengan warna yang terlalu terang dan menyala, melebihi sang camer. Its their moment, not yours.. Jika kamu tetap ingin bergaya dengan waran terang, batasannya : baju sang camer. Sebisa mungkin jangan melebihi terangnya mereka. Wisuda adalah momen kebanggaan mereka dengan putranya, so let they smile shine brighter with their colors.


5. Kembaran

Kalo si dia punya saudara perempuan, ada baiknya kamu kompakan bareng saudaranya itu. Memakai baju dengan satu tema warna, misalnya. Biar makin akrab.. ^^ Kalau sang adik/kakak  ternyata kembaran bareng camer, pakailah warna serupa/dengan tone warna yang sama.

Read the rest of this entry »

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook

, , , , , , In: si reporter(3) Comments

Thursday April 7th, 2011 19:45 Bahaya Toksik dalam Perhiasan China

“Kulit saya ini mahal. Tidak bisa pakai barang murahan.” Aih..

Selama beberapa dekade (halah!) saya tergila-gila pada perhiasan etnik dan unik. Mulai dari kalung, gelang, anting dan belakangan, cincing…ups, cincin maksudnya. Tapi saya selalu pusing mencari perhiasan yang tepat. Selera saya menjurus-jurus etnik, unik dan kontemporer. Warna-warna metal lebih favorit, menjauhi warna pink, motte, dan batu-batu mika yang blink-blink (kedap-kedip, maksudnya).

Nah, seringkali saat saya menemukan perhiasan yang saya suka, dan itu terbuat dari bahan metal. Kulit saya langsung alergi. Gatal-gatal dan timbul bercak kemerahan. Kalau digaruk sedikit, daerah bercaknya makin merah. Makin digaruk, malah berdarah, dan sesudahnya meninggalkan bekas coklat kehitaman :(

Read the rest of this entry »

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook

, , , , In: si reporter, temansNo Comments

Worst Reality Show on TV

1. Anang-Ashanty pre-wed and wed

2. Keeping Up with The K..

3. All Paris Hilton's reality show

4. Big Brother Indonesia

5. Dahsyat? ;))

Si Kelinci

May 2012
M T W T F S S
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Si Tumblr

  • photo from Tumblr

    May 11, 2012 

    Colorful.


Si @imothi